Konsep Luka

Table of Contents

Konsep Luka

Konsep Luka
1. Kulit
Bagian kulit :
Epidermis ; paling atas dan tipis
Dermis ; di dalam dan tebal. Terdiri atas rambut, kelenjar, pemuluh darah, dan saraf.
Subcutan
Otot

“Hipodermis ; susunan pada jaringan dan organ : fasia. Letaknya di bawah dermis, sebelum saat sub cutan.”

Fungsi Kulit ;
1. Proteksi ;
Melindungi kulit untuk mencegah masuknya microorganisme ke di dalam tubuh
Mencegah masuknya substansi asing masuk di dalam tubuh
Mempertahankan dari bahan kimia yang masuk di dalam tubuh
Tempat muncul masuknya air di dalam tubuh
Melindungi susunan di bawahnya
Melindungi dari ultraviolet
Bantalan untuk mencegah trauma organ di di dalam tubuh
Memproduksi zat
Mengatur regulasi air
2. Termoregulasi;
Mengontrol suhu badan bersama konveksi, evaporasi, konduksi dan radiasai
Membantu tubuh mengatur bersama suhu lingkungan
Menghilangkan panas waktu beraktivitas
Membuat tubuh menggigil dan bulu uduk berdiri, untuk mempertahankan tubuh tetap hangat walaupun di suhu dingin
Mendinginkan tubuh waktu berlangsung evaporasi
3. Metabolisme;
Membantu aktivasi vitamin D dan mengunakan vitamin D
Membantu tubuh mengeluarkan zat sisa
Menyerap medikasi
Menyimpan lemak
Berperan di dalam regulasi cardiac output dan tekanan darah
4. Sensasi;
Merasakan adanya sensai ; dingin, panas, nyeri, tekanan dan sentuhan
Menyalurkan sensai sosial dan seksual
Membantu keintiman secara fisik
5. Komunikasi
Mengkomunikasikan preasaan dan mood yang muncul dari ekspresi wajah
Mengambarkan marah, malu atau risau (merah, berkeringat, pucat)
Drainage ; pengaliran kotoran dari luka. Biasanya memiliki kandungan protein dan jaringan yang mati, yang merupakan produk infeksi > eksudat/nanah>serous jernih.

Tipe drainase ;
Serosa ; kandunganya adalah serum, kebanyakan jernih, tipis dan berair
Serosanguin ; tersusun atas serum dan darah
Sanguin ; berdarah, tersusun lebih dari satu besar darah
Purulent ; memiliki kandungan nanah
Penyebab kerusakan kulit ;
Imobilitas ; rendahnya aktifitas (duduk dan berbaring terlampau lama, paralisis)
Nutrisi tidak adekuat (kurus, ketidakcukupan protein)
Tingkat hidrasi (kelebihan dan kekurangan volum cairan)
Kelembapan lingkungan (urin, feses)
Kerusakan mental
Penambahan usia
Kerusakan imun (SLE< AIDS)
Cancer atau neoplasma
2. Luka
Pengertian
Luka adalah suatu gangguan dari keadaan normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995).
Ketika luka timbul, lebih dari satu dampak dapat muncul ;
Hilangnya seluruh atau lebih dari satu fungsi organ
Respon stres simpatis
Perdarahan dan pembekuan darah
Kontaminasi bakteri
Kematian sel
Jenis-Jenis Luka
Luka sering dilukiskan berdasarkan bagaimana cara beroleh luka itu dan perlihatkan derajat luka (Taylor, 1997).
1. Berdasarkan tingkat kontaminasi
Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak berlangsung proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada proses pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih kebanyakan menghasilkan luka yang tertutup; jikalau dibutuhkan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%.
Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan di mana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan di dalam keadaan terkontrol, kontaminasi tidak tetap terjadi, barangkali timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%.
Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), terhitung luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi bersama kerusakan besar bersama tehnik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini terhitung terhitung insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu adanya mikroorganisme pada luka.
2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang berlangsung pada susunan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya susunan kulit pada susunan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis layaknya abrasi, blister / lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang sanggup meluas hingga bawah tapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya hingga pada susunan epidermis, dermis dan fasia tapi tidak perihal otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang di dalam bersama atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang udah menggapai susunan otot, tendon dan tulang bersama adanya destruksi/kerusakan yang luas.
3. Berdasarkan waktu pengobatan luka
Luka akut : yaitu luka bersama masa pengobatan cocok bersama konsep pengobatan yang udah disepakati.
Luka gawat yaitu luka yang mengalami kegagalan di dalam proses penyembuhan, sanggup gara-gara aspek eksogen dan endogen.

Mekanisme terjadinya luka :
Luka insisi (Incised wounds), berlangsung gara-gara teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang berlangsung akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) kebanyakan tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
Luka memar (Contusion Wound), berlangsung akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
Luka lecet (Abraded Wound), berlangsung akibat kulit bergesekan bersama benda lain yang kebanyakan bersama benda yang tidak tajam.
Luka tusuk (Punctured Wound), berlangsung akibat adanya benda, layaknya peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit bersama diameter yang kecil.
Luka gores (Lacerated Wound), berlangsung akibat benda yang tajam layaknya oleh kaca / oleh kawat.
Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh kebanyakan pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tapi pada bagian ujung kebanyakan lukanya dapat melebar.
Luka Bakar (Combustio)
“Decubitus/luka tekan ; gara-gara proses tertekan yang lama di tempat spesifik bagian tubuh. Tekanan tersebut menyebakan gangguan sirkulasi, memperberat nekrosis, timbulnya lecet kemerahan.
Luka stasis vena = kebanyakan di ekstremitas bawah. Merupakan tanggapan local hipoksia yang dialami oleh bagian tubuh tertentu
Luka diabetik + pasien dg dekubitus
Fase pengobatan luka ;
1. Vascular response;
Beberapa detik setelah terjadinya luka pada style apapun, tanggapan tubuh bersama penyempitan pembuluh darah (konstriksi) untuk mencegah perdarahan dan mengurangi pajanan pada bakteri. Pada waktu yang sama, protein membentuk jaringan fibrosa untuk menutup luka. Ketika trombosit bersama protein menutup luka, luka menjadi lengket dan lemb membentuk fibrin. Setelah 10-30 menit setelah terjadinya luka, pembuluh darah melebar gara-gara serotonin yang dihasilkan trombosit. Plasma darah mengaliri luka dan melawan toxin yang dihasilkan microorganisme, mempunyai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk pengobatan luka dan mempunyai agen fagosit untuk melawan bakteri maupun jaringagan yang rusak.

2. Infmamasi;
Bagian luka dapat menjadi hangat dan merah karen aprose fagositosis. Fase inflamasi berlangsung 4-6 hari seteah injury. Tujuan inflamasi untuk halangi dampak bakteri bersama menetralkan toksin dan penyebaran bakteri.

3. Proliferasi/resolusi;
Penumpukan deposit kolagen pada luka, angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru), proliferasi dan pengecilan lebar luka. Fase ini berhenti 2 mgg setelah terjadinya luka, tapi proses ini tetap berlangsung lambat 1- 2 tahun. Fibroblast mensistesis kolagen dan menumbuhkan sel baru. Miofibroblas mengakibatkan luka menyempit, sekiranya tidak berlangsung penyempitan dapat berlangsung kematian sel. Contohnya jikalau berlangsung scar / kontraktur. Epitelisasi adalah pindahan sel epitel dari tempat sekitar folikel rambut ke tempat luka. Perpingahan tersebut terbatas 3 cm. Epitelisai dapat lebih cepat jikalau luka di dalam keadaan lembab.

4. Maturasi/rekontruksi;
Fase paling akhir pengobatan bersama remodelling scaryang terjadi. Biasanya berlangsung selam asetahun atau lebih seteleh luka tertutup. Selama fase ni fibrin di bentuk ulang, pembuluh darah menghilang dan jaringan memerkuat susunananya. Remodeling ini termasuk sintesis dan pemecahan kolagen.

Faktor yang Mempengaruhi Luka
1. Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati sanggup mengganggu sintesis dari aspek pembekuan darah.

2. Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemanfaatan pada tubuh. Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral layaknya Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk melakukan perbaikan status nutrisi mereka setelah pembedahan jikalau mungkin. Klien yang gemuk tingkatkan dampak infeksi luka dan pengobatan lama gara-gara supply darah jaringan adipose tidak adekuat.

3. Infeksi
Infeksi luka mencegah penyembuhan. Bakteri sumber penyebab infeksi. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi Sejumlah keadaan fisik sanggup pengaruhi pengobatan luka. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang mempunyai sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk pengobatan luka lambat gara-gara jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah sanggup terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan mengalami penurunan pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah dapat mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk pengobatan luka.

4. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jikalau terkandung bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk sanggup diabsorbsi tubuh, supaya mencegah proses pengobatan luka.

5. Benda asing
Benda asing layaknya pasir atau mikroorganisme dapat mengakibatkan terbentuknya suatu abses sebelum saat benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut bersama nanah (“Pus”).

6. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan di mana terkandung penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini sanggup berlangsung akibat dari balutan pada luka terlampau ketat. Dapat terhitung berlangsung akibat aspek internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.

7. Diabetes
Hambatan pada sekresi insulin dapat mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak sanggup masuk ke di dalam sel. Akibat hal tersebut terhitung dapat berlangsung penurunan protein-kalori tubuh.

8. Keadaan Luka
Keadaan spesifik dari luka pengaruhi kecepatan dan efektifitas pengobatan luka. Beberapa luka sanggup gagal untuk menyatu.

9. Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik pengaruhi pengobatan luka. Penggunaan antibiotik yang lama sanggup mengakibatkan seseorang rentan pada infeksi luka.
Steroid ; dapat menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh pada cedera
Antikoagulan ; mengakibatkan perdarahan
Antibiotik ; efektif diberikan langsung sebelum saat pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak dapat efektif akibat koagulasi intravaskular.

Penanganan medis di dalam pengobatan luka ;
Stimulasi elektrik ; stimulate DNA sintesis, aliran darah, prolierasi fibroblas dan mendorong migrasi sel epitel.
HBO (hiperbarik oksigen) ; beri tambahan oksigen bersama kandungan tinggi. Menaikkan kandungan oksigen jarina yang lka sehingganutri dan fibroblas meningkat.
Pemberian hormon pertumbuhan
Rawat luka

Komplikasi Penyembuhan Luka
1. Infeksi
Invasi bakteri pada luka sanggup berlangsung pada waktu trauma, sepanjang pembedahan / setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul di dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berbentuk infeksi terhitung adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah putih.

2. Perdarahan
Perdarahan sanggup perlihatkan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Hipovolemia barangkali tidak cepat tersedia tanda. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jikalau barangkali wajib sering dilihat sepanjang 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu.Jika perdarahan terlalu berlebih terjadi, penambahan tekanan balutan luka steril barangkali diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan barangkali diperlukan.

3. Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence adalah terbukanya susunan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh lewat tempat irisan. Sejumlah aspek meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi dampak klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka sanggup berlangsung 4 – 5 hari setelah operasi sebelum saat kollagen meluas di tempat luka. Ketika dehiscence dan eviscerasi berlangsung luka wajib langsung ditutup bersama balutan steril yang lebar, kompres bersama normal saline. Klien disiapkan untuk langsung dilaksanakan perbaikan pada tempat luka.

Mekanisme luka
Penyembuhan luka sering kali di hubungkan bersama luka pada kulit, tapi sebetulnya tidak hanya pada kulit, bias tulang, tendon, otot, organ dan jaringan. Tujuan utama pengobatan luka supaya jaringan sanggup lagi ke bentuk mula-mula dan berfaedah secara normal. Hasil sedikitnya yang dicapai adalah kerusakan yang berlangsung minimal, tidak tersedia komplikasi dari luka dan luka sanggup berproliferasi.

Penyembuhan luka adalah proses komplek dan dinamis di dalam proses perbaikan jaringan secara anatomi dan fungsinya. Penyembuhan luka ibarat proses membangun rumah. Bahan untuk membuatnya wajib cukup, layaknya nutrisi, aliran darah, dan oksigen. Idealnya proses pengobatan meliputi anatomi, fungsi dan penampakan. https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

3. Pengkajian Luka ;
Letak anatomi luka
Berapa lama udah terjadi
UKURAN ; lebar, panjang dan dalam
Warna dan penampakan luka dan jaringan sekitar
Tipe jaringan luka (granulasi, subcutan, otot, escar, nanah)
Ada tidaknya eksudat
Teraba panas, dingi, keras, lembut, dan observasi lainnya
Keluhan nyeri, gatal, tertarik
4. Intervensi keperawatan ;
Diet makanan sehat ; mencukupi kebutuhan daya dan protein
Minum yang cukup
Medikasi
Aktivitas
Tidak merokok
Rawat Luka

Baca Juga :

You may also like...