BAHAYA MEMAKSA ANAK MENGAMBIL JURUSAN STUDI YANG TIDAK SESUAI MINAT DAN BAKAT MEREKA

BAHAYA MEMAKSA ANAK MENGAMBIL JURUSAN STUDI YANG TIDAK SESUAI MINAT DAN BAKAT MEREKA

Setiap orang tua tentu punya mimpi tertentu guna anak-anak mereka. Meskipun baik, belum pasti anak berminat dan bakat yang sama. Sayang sekali, orang tua suka lupa bakal bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka.

Bukankah seluruh orang tua pada dasarnya hendak yang terbaik guna anak-anak mereka? Apalagi, opsi karier orang tua dirasakan sudah terbukti jadi sumber penghidupan ideal. Namun, yang menurut keterangan dari orang tua ideal belum pasti sama dengan pendapat anak.

Agar orang tua bisa lebih arif dengan rencana kuliah anak, berikut empat (4) bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka­:

Anak jadi tertekan ketika menjalani kuliah
Melakukan sesuatu sebab terpaksa bukan sesuatu yang menyenangkan. Meskipun anak ditekan dengan dengan rayuan ‘harus ikhlas menuruti orang tua’, pada kenyataannya tidak sedikit yang tidak bahagia. Menjalani kuliah jadi separuh hati. Karena tidak berbakat, lagipula tanpa minat, berjuang sekeras apa juga IPK tetap kecil.

Inilah bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka. Meskipun kesudahannya lulus, IPK mereka tidak bakal maksimal. Mereka dapat menjadi orang yang tidak bahagia sebab terlalu dipaksa.

Anak jadi memberontak dan menjauh dari orang tua
Pastinya, tidak terdapat orang tua mana juga yang mengharapkan hal ini. Bahkan, anak sendiri pun sesungguhnya tidak mau. Namun, tidak boleh sampai pemaksaan orang tua justeru membuat anak jadi memberontak dan menjauh. Meskipun merasa bahwa opsi orang tua lebih baik, dengarkan dulu argumen berhubungan pilihan anak.

Pada dasarnya, seluruh jurusan di universitas bermanfaat. Daripada memaksakan anak supaya menuruti kemauan orang tua, lebih baik bertukar pikiran dulu tentang pro dan kontra opsi masing-masing. Bila anak yakin dapat serius berkomitmen dengan pilihannya, biarkan mereka memperlihatkan sendiri perkataan mereka.

Tapi, bila akhirnya anak menyimpulkan untuk mengekor pilihan orang tua, pastikan ini bukan paksaan. Sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas jauh lebih baik daripada dalam paksaan, lagipula ancaman.

Orang tua membuang-buang uang, sedangkan anak membuang-buang masa-masa dan tenaga
Jangan dulu menyalahkan anak andai ini sampai terjadi. Misalnya: anak akhirnya berjuang menuruti orang tua dengan masuk ke jurusan opsi mereka. Karena ternyata tidak minat maupun punya bakat, sekeras apa juga berusaha, IPK tidak dapat memuaskan. Bahkan, anak ingin stres sebab merasa gagal.

Ini pun bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka. Ada yang baru satu tahun sudah tidak tahan, kemudian akhirnya ngotot mohon pindah jurusan sama orang tua. Ada yang akhirnya justeru putus harapan dan tidak mempedulikan dirinya di-DO oleh kampus. Sayang sekali, bukan?

Potensi anak yang sebetulnya jadi tertutup oleh ambisi orang tua
Anak hendak menjadi desainer grafis, sedangkan orang tuanya ngotot hendak sang anak menjadi dokter. Padahal, hasil tes bakat dan minat anak jelas-jelas mengindikasikan dirinya lebih berpengaruh di bidang seni. Apalagi, kini sudah era digital. Bukankah peluang bekerja di bidang desain grafis semakin tersingkap lebar?

Ingat, masing-masing anak tidak sama. Jangan bandingkan anak kita dengan sepupu mereka atau anak rekan yang kuliah di fakultas kedokteran. Bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka ialah potensi anak yang tertutup – bahkan terbunuh – ambisi orang tua sendiri.

Meskipun niat masing-masing orang tua baik guna anak, waspadai pun empat (4) bahaya memaksa anak memungut jurusan studi yang tidak cocok minat dan bakat mereka. Diskusikan bareng untuk opsi terbaik sebelum anak memasuki bangku kuliah. Sumber : https://www.pelajaran.co.id/

You may also like...