IPB University Sampaikan Mekanisme Hilirisasi Invensi Menuju Inovasi

IPB University Sampaikan Mekanisme Hilirisasi Invensi Menuju Inovasi

IPB University Sampaikan Mekanisme Hilirisasi Invensi Menuju Inovasi

IPB University Sampaikan Mekanisme Hilirisasi Invensi Menuju Inovasi

Sebuah kegiatan bertajuk “Internalisasi Mekanisme Hilirisasi Invensi IPB University Menuju Inovasi” digelar Selasa (13/8) di Kampus Dramaga, Bogor. Kegiatan tersebut mengundang para pihak yang terlibat dalam proses hilirisasi invensi, mulai dari inovator sampai dengan unit kerja dan lembaga.

“Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan, pertama adalah kekuatan IPB University saat ini adalah inovasi. Maka mari kita pertahankan dan tingkatkan agar inovasi kita bukan secara kuantitatif saja, jumlahnya meningkat, justru yang lebih penting lagi secara kualitas punya daya tarik di pasar,” tutur Rektor IPB University, Dr Arif Satria.

Hal kedua menurut Rektor inovasi yang dihasilkan adalah yang dapat menyelesaikan masalah. Inovasi yang demikian, menurutnya bisa dicapai jika para inovator banyak berinteraksi dengan pengguna atau masyarakat. Dr Arif yakin jika hal tersebut dilakukan dengan baik, akan banyak inspirasi dari IPB University untuk menyelesaikan masalah yang ada.

“Yang ketiga, kita harus punya roadmap, baik secara personal ataupun kelompok. Sekarang eranya lintas disiplin, tidak menutup kemungkinan adanya kolaborasi antar departemen atau divisi agar muncul buah inovasi yang lebih nendang. Sehingga akan lebih banyak lagi inovasi dari IPB University yang bisa memberi manfaat bagi bangsa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor bidang Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan, Prof Dr Erica B. Laconi mengatakan hasil penelitian atau invensi akan bisa menjadi inovasi jika sudah diuji coba dan memiliki added value. Menurutnya dari 461 invensi, baru 106 yang sudah diuji coba atau sekira 30 persennya. Padahal, saat ini indikator yang digunakan oleh Dikti bukan jumlah invensinya, melainkan kualitas dari inovasi.

“IPB University sudah punya aturan main sejak tahun 2004. Tahun ini telah terbit Surat Keputusan

(SK) Rektor untuk Komite Komersialisasi Invensi (KKI) yang anggotanya dari Wakill Rektor bidang Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Tim ini yang nanti akan menentukan apakah invensi bisa berlanjut atau tidak. Yang akan kita lanjutkan itu adalah invensi yang Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT)/Technology Readiness Level (TRL) nya di atas tujuh,” ujar Prof Erika.

Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual, Dr Syarifah Iis Aisyah juga mengatakan bahwa invensi yang sudah minimal tujuh TRL nya, akan diusulkan draft patennya, baik itu hak paten, hak cipta atau hak merk oleh unit kerja yang dipimpinnya.

“Ada dua skema hilirisasi, sosial dan komersial. Yang terpenting adalah sekarang bukan

lagi value dalam arti rupiah. IPB University kan biasanya benih, pupuk, meski nilai rupiah kecil tapi kalau impactnya besar, itu yang diniliai, dampak pembangunan ekonominya yang dihitung,” kata Dr Iis.

Selain itu Dr Rokhani Direktur Kawasan Sains Teknologi dan Inkubator Bisnis IPB University juga menyampaikan, hadirnya kawasan sains teknologi ini tidak terlepas dari visi Presiden RI, Joko Widodo yang menyebutkan bahwa untuk membangun bangsa dalam persaingan global terutama di kawasan Asia, salah satu caranya adalah membangun Science Techno Park (STP) di berbagai desa.

“Bicara STP, itu adalah wahana hilirisasi, tujuannya untuk akselerasi, transformasi

dari invensi menuju inovasi,” ujar Dr Rokhani.

Jika inovasi sudah layak untuk dipasarkan, jelas nilai bisnisnya, maka Direktorat Pengembangan Bisnis dan Kewirausahaan IPB University akan membantu mengawal inovasi tersebut ke pasar.

Namun hal penting yang disampaikan Dr Jaenal Effendi selaku Direktur Pengembangan Bisnis dan Kewirausahaan adalah bahwa unit bisnis yang ada di IPB University juga harus memiliki dampak yang positif, tidak hanya segi pendapatan, namun juga sosial dan lingkungan.

“Satu hal yang jadi concern kita, kita juga menganalisa dampak dari unit bisnis yang ada di IPB University. Dampak terhadap sosial kemasyarakatan, lingkungan dan pendapatan ini ternyata cukup signifikan. Alhamdulillah positif semua, banyak keterlibatan masyarakat untuk aktivitas bisnis,” ujarnya.(RZ/Zul)

 

Baca Juga :

You may also like...