Hadirkan 18 Narasumber Kebudayaan, Disbudpar dan Unair Adakan Pemetaan dan Perumusan Ulang Kebudayaan Jatim

Hadirkan 18 Narasumber Kebudayaan, Disbudpar dan Unair Adakan Pemetaan dan Perumusan Ulang Kebudayaan Jatim

Hadirkan 18 Narasumber Kebudayaan, Disbudpar dan Unair Adakan Pemetaan dan Perumusan Ulang Kebudayaan Jatim

Hadirkan 18 Narasumber Kebudayaan, Disbudpar dan Unair Adakan Pemetaan dan Perumusan Ulang Kebudayaan Jatim

Pentingnya melakukan pemetaan dan perumusan ulang kebudayaan Jawa Timur digagas

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga dengan menggelar forum group discussion (FGD), Kamis (24/10/2019).

Bertempat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair), 18 narasumber dihadirkan. Mereka berasal dari akademisi, praktisi, jurnalis, dan seniman yang mendiskusikan isu-isu terkini yang berkembang dalam kebudayaan Jawa Timur.

Dibagi dalam dua sesi FGD, mereka yang dianggap kompeten dalam memetakan dan merumuskan kembali kebudayaan Jawa Timur itu di antaranya membahas isu pemertahanan dan penguatan budaya lokal, industri kreatif hingga tantangan sebagai bagian kewargaan global. Isu-isu mengingat bahwa posisi Jawa Timur sebagai sebuah wilayah geografis dan administratif yang dalam realitasnya bukanlah sebuah entitas tunggal, melainkan plural sehingga perlu dibahas lebih intens dalam sebuah FGD.
Baca Juga:

Sebelas Mahasiswa FKG UNAIR Panen Juara dalam 13th Dentistry Scientific Meeting
Begini Kata Menteri Polstrat BEM FISIP Unair Soal Golput
Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Dosen Unair Bina Ratusan Lansia
Tanaman Torbangun, Antara Obat dan Efek Samping
Unair Sumbang Rp 7,92 Triliun untuk Perekonomian Jatim

Dijelaskan Ketua Tim Perumus Lina Puryanti, “Pemetaan dan Perumusan Ulang Kebudayaan Jawa Timur”

ini ada kaitannya dengan konsep bahwa Provinsi Jawa Timur sebagai satu teritori merupakan akumulasi dari sejumlah wilayah kebudayaan yang memiliki karakteristiknya masing-masing. Berdasarkan riset Ayu Sutarto (2004) -yang masih dijadikan acuan hingga saat ini-, Jawa Timur terdiri atas sepuluh wilayah kebudayaan, di antaranya, sub kebudayaan arek, Mataraman, Osing, Samin, Tengger, Pandalungan, Panaragan, Madura kepulauan, Madura-Bawean, dan lainnya.

Pembagian wilayah kebudayaan seperti tergambar pada bagan tersebut pada dasarnya bukanlah untuk membedakan dalam perspektif pemisahan, melainkan sebagai pemahaman karakteristik masyarakat. Hal ini didasarkan pada pemikiran Kluckhohn terkait tujuh unsur kebudayaan: sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, sistem peralatan hidup dan teknologi, bahasa, dan kesenian.

Apabila dicermati, sejumlah wilayah kebudayaan di Jawa Timur merupakan sintesis beberapa kebudayaan,

seperti Mataraman yang mengakomodasi kebudayaan Jawa Tengah, dan Pandalungan yang menyatukan kebudayaan Jawa dan Madura. Fakta yang demikian memperlihatkan adanya dinamika budaya yang terjadi di masa lalu. Dengan perkataan lain, baik disadari maupun tidak, dinamika budaya adalah sebuah keniscayaan.

Seiring dengan perkembangan zaman, dinamika budaya beroperasi dengan cara yang berbeda dari masa-masa sebelumnya karena tidak hanya melibatkan interaksi dan mobilitas manusia dalam ranah ruang harfiah. Manusia sebagai anggota sebuah kebudayaan bahkan telah bergerak melampaui ruang-ruang geografis sehingga sekat-sekat kebudayaan klasik pun tidak lagi sepenuhnya dapat mengakomodasi perkembangan yang demikian.

“Dalam diskusi kita memikirkan kembali, apakah dengan perubahan zaman, misalnya berkembangnya teknologi informasi, nilai-nilai budaya tersebut masih tetap atau mengalami perubahan. Apakah justru kondisi kekinian membuat lebur ‘batas-batas’ sub kebudayaan itu? Itulah mengapa kebudayaan Jawa Timur perlu dipetakan dan dirumuskan kembali,” ujar dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unair itu

 

Baca Juga :

You may also like...